Kesedihan memang adalah merupakan fenomena yang lumayan menyibukkan manusia. Ada orang yang sibuk menhitung hari hari penderitaannya dan adapula yang larut dalam penderitaan itu.
Setiap masalah pasti akan muncul kesedihan didalamnya, apakah itu berlangsung cuma dalam hitungan detik maupun dalam hitungan tahun. Itu semua tergantung sampai kapan kesedihan itu berjalan dan sejauh mana kita memandang kesedihan itu sebagai musibah.
Cuma ada pertanyaan yang sering muncul dalam pikiran saya, apakah memang kita perlu larut dalam kesedihan itu, apakah kesedihan itu harus ada dalam kehidupan kita dan apakah kita tidak bisa menyulap kesedihan itu menjadi suatu kegembiraan yang berhiaskan senyum. Ternyata pertanyaan itu telah kutemukan jawabannya setelah merenung tentang makna kehidupan yang sebenarnya.
Jawaban pertama : Ternyata kesedihan itu tidak perlu dipahami sebagai suatu hal yang abadi. Allah SWT menciptakan semua hal didunia ini berpasang-pasangan, ada siang dan ada malam, ada air dan ada api, ada kehidupan dan akan ada kematian, ada kesedihan dan akan ada kegembiraan. Dengan diciptakannya dua hal yang berbeda tersebut, ternyata banyak ibrah yang terkandung didalamnya, salah satu yang bisa kita pahami adalah ternyata dua hal tersebutdatang bergantian satu sama lain. setelah datangnya kesedihan pasti akan ada kegembiraan yang menunggu. Sesulit apapun seorang pengemis di pinggiran jalan yang ramai dalam meminta sekeping uang rupiah, tapi pastilah ia pernah tersenyum dengan ikhlasnya tak kala seorang yang berhati mulia menginfakkan 5000 perak kepadanya.
Jawaban kedua: Kesedihan memanglah merupakan sandiwara kehidupan yang harus kita jalani, tak seorangpun bisa menghindar dari kesedihan itu. Kesedihan itu akan tetap ada sampai dunia ini berakhir. Kesedihan itu akan raib ketika kita bertemu dengan Allah SWT yang maha perkasa kelak disurga. Di surgalah kita akan merasakan kegembiraan yang abadi, kemurungan dan kesedihan waktu itu tidak akan datang lagi, tertutupi oleh nikmatnya bertemu dengan Rabbul alamin.
Jawaban ketiga : Karena kesediah akan tetap ada selama kita hidup maka cara yang terbaik untuk memaknai hidup yang sebenarnya adalah menyulap kesedihan itu menjadi secercah senyuman dan kegembiraan. Didalam kesedihan cobalah menengok kebelakang apakah memang kita yang paling terkucil, cobalah merenung apakah larut dalam kesedihan itu bisa mengganti segalanya menjadi lebih baik, cobalah berfikir apakah kesedihan itu fitrahnya abadi, setelah mendapatkan jawabannya coba tenangkan pikiran dan hati anda, tarik nafas dalam dan rasakan indahnya udara kegembiraan merasuk dalam tiap nafas kita. cobalah merilekskan kerutan wajah menjadi lembut dan bercahaya diselimuti senyum.
memang bukan pekerjaan mudah untuk melakukan itu. bagaimana mungkin seorang mahasiswa yang mendapat nilai F (fail) serta ancaman DO dari dekan masih bisa tersenyum. Kalau menurut saya, kenapa tidak? Apakah dengan nilai F yang didapatkan dapat menghancurkan seluruh kehidupannya?, apakah dengan ancaman DO maka kehidupannya dipastikan akan hancur? apakah mahasiswa yang putus kuliah kedepannya akan menjadi gelandangan? ternyata hal tersebut tidak terbukti. Manta presiden kita aja khabarnya hanyalah tamatan SMA, beberapa wirausahawan sukses terkenal tidak bermodalkan dengan pendidikan yang tinggi. Taaaapi upssss.... jangan disalah artikan....kalau pendidikan itu tidak penting. kali ini kita berbicara dalam konteks kesedihan.
Ternyata kesedihan tidak perlu dibuat-buat atau dimanipulasi seolah-olah menjadi petaka. Luangkan waktu untuk menyelipkan secercah senyuman dalam setiap kesedihan, niscaya anda akan menjadi lebih mapan ,lebih bijksana, dan lebih kokoh dalam memahami tiap problematika hidup. Setelah anda melakukan hal tersebut maka yakinkan hati anda bahwa ternyata senyuman bisa mengalahkan kesedihan, ternyata kesedihan tidak ada nilainya dibandingkan dengan terangnya hati dihiasi senyuman.
Nah...satu hal lagi yang harus dihapus dari pernebdaharaan pikiran kita. yaitu prasangkaan kalau menerima nasehat dari orang lain : " Itu khan karena bukan anda yang mengalami ". " memang mudah kalau cuma dengan kata-kata ". Dua hal ini yang akan menghambat anda untuk meraih secercah senyuman. Olehnya itu hapus dua hal tersebut dari perbendaharaan kata kita. Justru orang yang tidak mengalami pikirannya akan lebih jernih dibandingkan dengan orang yang ditimpa musibah dan lagi memang awal dari suatu pernuatan itu adalah kata-kata. Banyak sahabat yang berkeluh kesah pada nabi pada waktu ditimpa musibah. Tapi dengan lembutnya sabda nabi maka sahabat dengan senang hati menerima setiap kata-kata nabi dan langsung menerapkannya dalam kehidupannya. Nah ...itu namanya proses pemahaman dan perbaikan. olehnya itu nasehat saya niatkanlah untuk berubah menjadi kuat sekuat baja dan lembut sehalus stra yang putih....
Ayoooo mari tersenyum dalam kesedihan.......

Tidak ada komentar:
Posting Komentar